Bylaws

Anggaran Rumah Tangga

PAGUYUBAN SOSIAL MARGA TIONGHOA INDONESIA

BAB I: PENDAHULUAN

Pasal 1

  1. Anggaran Rumah Tangga PAGUYUBAN SOSIAL MARGA TIONGHOA INDONESIA disingkat ART PSMTI merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Anggaran Dasar  PAGUYUBAN SOSIAL MARGA TIONGHOA INDONESIA disingkat AD PSMTI.
  2. Anggaran Rumah Tangga ini menetapkan penjabaran yang lebih rinci dari Anggaran Dasar PSMTI.

BAB II: LAMBANG

Pasal 2

  1. Lambang PSMTI: Sekuntum bunga berwarna biru, setangkai padi berwarna kuning, rangkaian bunga  kapas berwarna kuning dan putih serta sehelai Bendera Merah Putih.
  2. Maksud Lambang:Lambang digunakan sebagai identitas PSMTI.
    • Sekuntum bunga bermakna kesetiaan dalam suka dan duka.
    • Warna biru pada bunga melambangkan ketulusan, keikhlasan dan kedamaian.
    • Jumlah kelopak bunga 5 helai melambangkan Pancasila.
    • Padi dan kapas bermakna sejahtera, adil dan makmur.
    • Warna kuning melambangkan budi yang luhur dan kejayaan.
    • Bendera Merah Putih melambangkan Negara dan Bangsa Indonesia.
    • Jumlah butir padi 17 dan jumlah bunga kapas 8, melambangkan tanggal dan bulan Proklamasi 17 Agustus 1945.

BAB III: PENGGUNAAN LAMBANG

Pasal 3

Lambang digunakan untuk panji, stempel, logo, atribut, pataka, kop surat, piagam
penghargaan dan pin PSMTI atau untuk keperluan lain yang memerlukan lambang
PSMTI.

BAB IV: HYMNE DAN MARS

Pasal 4

  1. HYMNE PSMTI: Berisi pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat  dan karunia yang telah dianugerahkan kepada segenap anggota dan pengurus PSMTI.
  2. Penggunaan HYMNE PSMTI : Dinyanyikan oleh anggota PSMTI atau paduan suara pada setiap pembukaan acara resmi PSMTI, setelah lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.
  3. MARS PSMTI: Berisi penyebar semangat bagi pengurus dan anggota PSMTI dalam melakukan kegiatan–kegiatan PSMTI, yang mencerminkan semangat bekerja dan mengabdi secara terus menerus.
  4. Penggunaan MARS PSMTI: Dinyanyikan oleh setiap anggota PSMTI pada setiap permulaan sebelum kegiatan sosial PSMTI akan dan/atau sedang dilangsungkan.

BAB V: KEANGGOTAAN

Pasal 5
Anggota

  1. Anggota PSMTI terdiri dariAnggota Istimewa adalah Warga Negara Asing suku Tionghoa berasal dari Indonesia.
    • Anggota Biasa Aktif adalah Warga Negara Indonesia suku Tionghoa, yang terdaftar sebagai anggota dan memiliki Kartu Tanda Anggota.
    • Anggota Biasa Pasif adalah Warga Negara Indonesia suku Tionghoa yang belum terdaftar sebagai anggota PSMTI dan tidak menolak keberadaan PSMTI.
    • Anggota Luar Biasa adalah Warga Negara Indonesia/Asing bukan suku Tionghoa, yang mempunyai hubungan keluarga langsung sebagai suami atau istri dengan anggota biasa aktif maupun pasif.
    • Anggota KehormatanWarga Negara Indonesia, selain anggota tersebut dalam huruf (a), (b), dan (c) di atas yang telah berjasa untuk kepentingan masyarakat Tionghoa maupun PSMTI.
  2. Anggota Luar Biasa dan Anggota Kehormatan dapat diberikan marga dan namaTionghoa oleh PSMTI Pusat maupun Provinsi.

BAB VI: HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 6
Hak Anggota

  1. Hak Bicara
  2. Hak Bicara adalah hak untuk menyampaikan pendapat untuk kepentingan dan kemajuan PSMTI.
  3. Yang memiliki Hak Bicara adalah Anggota yang tersebut dalam Pasal 5.
  4. Hak Suara adalah hak yang melekat pada diri seseorang atau jabatan tertentu yang diberikan berdasarkan AD  PSMTI dan/atau ART PSMTI dalam pengambilan keputusan dengan cara pemungutan suara pada pembahasan suatu permasalahan dan pemilihan Ketua Umum atau Ketua di setiap tingkatan dalam Musyawarah.
  5. Hak memilih dan dipilih menjadi pengurus.

Pasal 7
Kewajiban Anggota

  1. Wajib menaati dan melaksanakan AD  PSMTI,  ART PSMTI beserta segenapperaturan dan program kerja PSMTI.
  2. Wajib menjunjung tinggi nama baik dan kehormatan PSMTI.

Pasal 8
Iuran Anggota

Iuran anggota sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh PSMTI pada tingkatannya
masing-masing.

BAB VII: ORGANISASI

Pasal 9
Perwakilan

  1. Perwakilan adalah seseorang atau beberapa orang tokoh masyarakat Tionghoa Indonesia di wilayah yang belum dibentuk PSMTI, ditunjuk dan ditetapkan oleh PSMTI untuk membentuk kepengurusan PSMTI di daerah tersebut.
  2. Warga suku Tionghoa Indonesia yang berdomisili di luar negeri dapat membentuk perwakilan di  wilayah negara tersebut melalui penunjukan dan penetapan oleh PSMTI Pusat.

Pasal 10
Afiliasi

  1. Afiliasi adalah organisasi masyarakat Tionghoa yang mandiri, di suatu wilayah yangbelum dibentuk PSMTI, dapat memahami, menerima Visi dan Misi serta AD PSMTIdan ART PSMTI, dan akan menyalurkan aspirasinya melalui PSMTI tingkatan di atasnya.
  2. Afiliasi ditunjuk dan ditetapkan oleh PSMTI satu tingkatan di atasnya. Apabila PSMTI satu tingkatan di atasnya belum ada maka ditunjuk dan ditetapkan oleh PSMTI tingkat berikutnya.
  3. Apabila di kemudian hari terbentuk PSMTI Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan/Distrik  di wilayah tersebut ayat (1) dan (2) di atas,  maka Afiliasi dimaksud menyalurkan aspirasinya melalui PSMTI setempat.

BAB VIII: PEMBENTUKAN KEPENGURUSAN

Pasal 11
Kepengurusan

Kepengurusan PSMTI Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan/Distrik, dapat dibentuk
sesuai kebutuhan dan kondisi setempat.

Pasal 12
Penetapan Kepengurusan

  1. Kepengurusan PSMTI Pusat disusun oleh Ketua Umum terpilih bersama Formaturyang dipilih dan ditetapkan melalui MUNAS.
  2. Kepengurusan PSMTI Pusat dilantik oleh Ketua Umum terpilih.
  3. Kepengurusan PSMTI Provinsi disusun oleh Ketua Provinsi terpilih bersama Formatur yang dipilih dan ditetapkan melalui MUSPROV.
  4. Kepengurusan PSMTI Provinsi dikukuhkan dan dilantik oleh PSMTI Pusat.
  5. Kepengurusan PSMTI Kabupaten/Kota disusun oleh Ketua Kabupaten/Kota terpilih bersama Formatur yang dipilih dan ditetapkan melalui MUSKAB/MUSKOT.
  6. Kepengurusan PSMTI Kabupaten/Kota dikukuhkan dan dilantik  oleh PSMTI Provinsi.
  7. Kepengurusan PSMTI Kecamatan/Distrik disusun oleh Ketua Kecamatan/Distrikterpilih bersama Formatur yang dipilih dan ditetapkan melalui MUSCAM/MUSDIS.
  8. Kepengurusan PSMTI Kecamatan/Distrik dikukuhkan dan dilantik  oleh PSMTI Kabupaten/Kota.
  9. Apabila belum ada kepengurusan satu tingkat di atas kepengurusan yang bersangkutan, maka kepengurusan dimaksud ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan kepengurusan satu tingkat berikutnya, demikian seterusnya.
  10. Bagi daerah yang kepengurusannya belum terbentuk, untuk pertama kalinya dibentuk berdasarkan surat keputusan dari pengurus satu tingkat di atasnya, apabila tingkatan di atasnya juga belum terbentuk, maka dilaksanakan oleh kepengurusan satu tingkat atas berikutnya, demikian seterusnya.

BAB IX: PENGURUS

Pasal 13
Susunan Pengurus

  1. Susunan Pengurus Pusat
    • Ketua Umum
    • Ketua Harian (apabila diperlukan)
    • Wakil-wakil Ketua Umum.
    • Sekretaris Umum
    • Wakil-wakil Sekretaris Umum
    • Bendahara Umum
    • Wakil-wakil Bendahara Umum
    • Kepala Departemen
    • Wakil Kepala Departemen
    • Kepala Bidang
    • Wakil Kepala Bidang
  2. Susunan Pengurus Provinsi
    • Ketua
    • Ketua Harian (apabila diperlukan)
    • Wakil-wakil Ketua
    • Sekretaris
    • Wakil-wakil Sekretaris
    • Bendahara
    • Wakil-wakil Bendahara
    • Kepala Bidang
    • Wakil-wakil Kepala Bidang
    • Kepala Seksi
    • Wakil-wakil Kepala Seksi
  3. Susunan Pengurus Kabupaten/Kota
    • Ketua
    • Ketua Harian (apabila diperlukan)
    • Wakil-wakil Ketua
    • Sekretaris
    • Wakil-wakil Sekretaris
    • Bendahara
    • Wakil-wakil Bendahara
    • Kepala Seksi
    • Wakil-wakil Kepala Seksi
    • Kepala Unit
    • Wakil-wakil Kepala Unit
  4. Susunan Pengurus Kecamatan/Distrik
    • Ketua
    • Ketua Harian (apabila diperlukan)
    • Wakil-wakil Ketua
    • Sekretaris
    • Wakil-wakil Sekretaris
    • Bendahara
    • Wakil-wakil Bendahara
    • Kepala Unit
    • Wakil-wakil Kepala Unit

BAB X: WEWENANG DAN TUGAS PENGURUS

Pasal 14
Wewenang Pengurus

Pengurus PSMTI sesuai tingkatan kepengurusannya mempunyai wewenang:

  1. Apabila dipandang perlu, dapat melakukan perubahan kepengurusan antar waktu di dalam periode Kepengurusan yang masih aktif untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi.
  2. Mengusulkan dan memberhentikan dengan hormat Pengurus yang ternyata menjadi Pengurus Partai Politik.
  3. Mengajukan dan memberhentikan pengurus yang ternyata menyalah-gunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, usaha dagang dan kegiatan lain yang tidak patut.
  4. Apabila Ketua Umum atau Ketua Pengurus di setiap tingkatan kepengurusan tidak dapat menjalankan tugas organisasi karena berhalangan tetap, maka kepengurusan dipimpin oleh Ketua Harian atau salah seorangWakil Ketua Umum /Wakil Ketua atau yang dipilih melalui Rapat Pleno Pengurus pada tingkatan tersebut.

Pasal 15
Tugas Pengurus

  1. Memimpin PSMTI untuk mencapai tujuan sesuai AD PSMTI, ART PSMTI dan Program Kerja PSMTI.
  2. Membuat Perencanaan, pengambilan keputusan dan pengendalian semua kegiatan PSMTI.
  3. Menyelenggarakan musyawarah-musyawarah dan rapat-rapat sesuai AD PSMTI dan ART PSMTI.
  4. Pengurus wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban seluruh kegiatan dan keuangan pada akhir masa bakti kepengurusan.

Pasal 16
Persyaratan Pengurus

  1. Persyaratan Umum
    • Anggota Biasa Aktif PSMTI.
    • Sehat rohani dan jasmani.
    • Dapat berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik.
    • Tidak diragukan pengabdian dan dedikasinya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan masyarakat Tionghoa
    • Mempunyai reputasi yang baik di masyarakat.
    • Tidak menggunakan wadah PSMTI untuk kepentingan pribadi, politik, usaha dagang dan lain-lain yang tidak patut.
    • Tidak dalam status sebagai narapidana.
    • Tidak menjabat sebagai pengurus Partai Politik.
    • Sanggup menanda tangani formulir kesediaan menjadi pengurus.
  2. Persyaratan Tambahan Khusus untuk Ketua Umum/Ketua pada setiap tingkatan
    • Dipilih dalam Forum Musyawarah sesuai tingkatan berdasarkan asas musyawarah untuk mufakat atau melalui cara pemungutan suara
    • Bersedia dan sanggup menjalankan tugasnya di tempat kedudukan sekretariat sesuai tingkatan kepengurusannya.
    • Pernah menjabat sebagai Pengurus PSMTI dan/atau pernah menjabat sebagai Dewan Pertimbangan/Dewan Pembina/Dewan Ketua Kehormatan/Dewan Penasihat/Dewan Pakar  untuk  sekurang-kurangnya 1 (satu) periode kepengurusan.

Pasal 17
Organ Operasional PSMTI

  1. Organ-organ operasional PSMTI terdiri dari:Fungsi dan tugas organ-organ PSMTI dijabarkan dalam Program Kerja PSMTI.
    • Departemen dan Bidang pada tingkat Pusat
    • Bidang dan Seksi pada tingkat Provinsi
    • Seksi dan Unit pada tingkat Kabupaten/Kota
    • Unit pada tingkat Kecamatan/Distrik

BAB XI: TATA CARA PENCALONAN DAN PEMILIHAN

Pasal 18
Tata Cara Pencalonan dan Pemilihan

  1. Ketua Umum PSMTI Pusat
    • Setiap Kepengurusan Provinsi hanya dapat mengusulkan 1 (satu) Bakal Calon Ketua Umum.
    • Bakal Calon Ketua Umum diusulkan oleh 1 (satu) Kepengurusan  Provinsi secara tertulis dan tertutup.
    • Bakal Calon Ketua Umum tersebut harus mendapat dukungan sekurang-kurangnya 5 (lima) Kepengurusan Provinsi untuk menjadi Calon Ketua Umum.
    • Pemeriksaan administratif oleh Pimpinan Sidang Munas tentang persyaratan pencalonan sesuai ketentuan AD PSMTI dan ART PSMTI yang dituangkan dalam Tata Tertib Munas serta persyaratan calon ketua umum.
    • Calon Ketua Umum wajib hadir untuk menyampaikan visi, misi dan program kerja dihadapan Sidang Pleno Munas.
    • Bersedia menandatangani dan  mengucapkan janji sebagai Ketua Umum.
    • Pemungutan suara atau voting dilaksanakan bila calon lebih dari satu orang, yang dilaksanakan secara tertulis dan tertutup.
    • Di samping tata cara yang disebutkan di atas, wajib juga memperhatikan tata cara dan persyaratan lain yang ditetapkan dalam Tata tertib pemilihan Ketua Umum yang disahkan dalam Munas.
  2. Ketua PSMTI Provinsi dan Ketua Kabupaten/KotaApabila kepengurusan PSMTI pada daerah tersebut belum memiliki kepengurusan satu tingkat di bawahnya, atau jumlah kepengurusannya belum mencapai jumlah yang ditetapkan dalam ayat 2 huruf (b) dan (c) di atas, maka syarat pencalonan Ketua pada daerah tersebut dapat disesuaikan dan ditetapkan dalam tata tertib musyawarah.
    • Setiap Kepengurusan satu tingkat di bawahnya hanya dapat mengusulkan 1 (satu) Bakal Calon Ketua.
    • Bakal Calon Ketua diusulkan oleh 1 (satu) Kepengurusan satu tingkat di bawahnya secara tertulis dan tertutup.
    • Bakal Calon Ketua tersebut harus mendapat dukungan sekurang-kurangnya 3 (tiga) Kepengurusan satu tingkat di bawahnya untuk menjadi Calon Ketua.
    • Pemeriksaan administratif oleh Pimpinan Sidang Musyawarah tentang persyaratan pencalonan sesuai ketentuan AD PSMTI dan ART PSMTI yang dituangkan dalam Tata Tertib Musyawarah serta persyaratan calon ketua.
    • Calon Ketua wajib hadir untuk menyampaikan visi, misi dan program kerja dihadapan Sidang Pleno Musyawarah.
    • Bersedia menandatangani dan mengucapkan janji sebagai Ketua.
    • Pemungutan suara atau voting dilaksanakan apabila calon lebih dari satu orang, yang dilaksanakan secara tertulis dan tertutup.
    • Di samping tata cara yang disebutkan di atas, wajib juga memperhatikan tata cara dan persyaratan lain yang ditetapkan dalam Tata tertib pemilihan Ketua yang disahkan dalam Musyawarah.
  3. Ketua PSMTI Kecamatan/Distrik, dipilih langsung oleh Pengurus Demisioner PSMTI Kecamatan/Distrik setempat  secara musyawarah untuk mufakat, apabila musyawarah untuk mufakat tidak tercapai maka pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara secara tertulis dan tertutup.

BAB XII: HAK SUARA DAN PEMUNGUTAN SUARA

Pasal 19
Hak Suara

Hak suara dalam pengambilan keputusan pada setiap tingkatan kepengurusan:

  1. Kepengurusan Pusat
    • Dewan Pertimbangan Pusat1 (satu) suara
    • Dewan Pembina Pusat 1 (satu) suara
    • Dewan Ketua Kehormatan Pusat 1 (satu) suara
    • Dewan Penasihat Pusat 1 (satu) suara
    • Dewan Pakar Pusat 1 (satu) suara
    • Kepengurusan Pusat 3 (tiga) suara
    • Kepengurusan Provinsi 3 (tiga) suara
    • Kepengurusan Kabupaten/Kota 3 (tiga) suara
  2. Kepengurusan Provinsi
    • Dewan Pembina Provinsi 1 (satu) suara
    • Dewan Ketua Kehormatan Provinsi 1 (satu) suara
    • Dewan Penasihat Provinsi 1 (satu) suara
    • Dewan Pakar Provinsi 1 (satu) suara
    • Kepengurusan Provinsi 3 (tiga)suara
    • Kepengurusan Kabupaten / Kota 3 (tiga) suara
    • Kepengurusan Kecamatan/Distrik 3 (tiga)suara
  3. Kepengurusan Kabupaten / Kota
    • Dewan Ketua Kehormatan Kabupaten/Kota 1 (satu) suara
    • Dewan Penasihat Kabupaten/Kota 1 (satu) suara
    • Dewan Pakar Kabupaten/Kota 1 (satu) suara
    • Kepengurusan Kabupaten/Kota 3 (tiga) suara
    • Kepengurusan Kecamatan/Distrik3 (tiga) suara
  4. Kepengurusan Kecamatan/Distrik
    • Dewan Ketua Kehormatan Kecamatan/Distrik 1 (satu) suara
    • Dewan Penasihat Kecamatan/Distrik 1 (satu) suara
    • Setiap Pengurus Demisioner Kecamatan/Distrik 1 (satu)suara

Pasal 20
Pemungutan Suara

  1. Pemungutan suara dilakukan secara terbuka dan apabila menyangkut diri orang dilakukan dengan surat tertutup.
  2. Suara blanko atau suara yang tidak sah dianggap tidak ada dan tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara.
  3. Apabila pengambilan keputusan berdasarkan pemungutan suara, terdapat suara yang setuju dengan yang tidak setuju sama banyaknya, maka keputusan tersebut dianggap tidak ada.

BAB XIII: FORMATUR

Pasal 21

  1. Formatur adalah tim yang dibentuk pada akhir Rapat Pleno musyawarah pada setiap tingkatan, yang bertugas untuk membentuk susunan kepengurusan lengkap dan Badan Pemeriksa Keuangan pada tingkatan dimaksud.
  2. Anggota Formatur berjumlah ganjil, yang terdiri dari Ketua Umum / Ketua Terpilih pada tingkatan tersebut sebagai Ketua Formatur terpilih ditambah anggota-anggota Formatur, sehingga keseluruhannya berjumlah sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dan sebanyak-banyaknya 11 (sebelas) orang.
  3. Komposisi anggota Formatur disusun dengan memperhatikan asas keterwakilan unsur pusat dan unsur daerah.
  4. Ketua Umum atau Ketua yang terpilih melalui Musyawarah dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak hari Musyawarah, bersama-sama dengan Formatur, sudah membentuk kepengurusan lengkap.
  5. Masa tugas Formatur berakhir pada saat susunan kepengurusan pada tingkatan yang dimaksud telah ditetapkan dalam Surat Keputusan Kepengurusan dan telah dilantik.

BAB XIV: PELANTIKAN PENGURUS

Pasal 22

  1. Setiap kepengurusan yang terbentuk baik yang untuk pertama kalinya maupun yang dipilih berdasarkan Musyawarah, sebelum menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, wajib dilantik.
  2. Jangka waktu pelantikan paling lama  90  (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal Surat Keputusan pembentukan kepengurusan dimaksud.
  3. Pelantikan kepengurusan PSMTI Pusat dilakukan oleh Ketua Umum.
  4. Pelantikan kepengurusan di setiap tingkatan dilakukan oleh Ketua Pengurus satu tingkat di atasnya.
  5. Apabila kepengurusan satu tingkat di atasnya belum terbentuk, maka pelantikan dilakukan satu tingkat berikutnya.
  6. Serah terima jabatan dari kepengurusan yang lama kepada kepengurusan yang baru terhitung sejak diterbitkannya Surat Keputusan Pembentukan Pengurus.

BAB XV: DEWAN PERTIMBANGAN

Pasal 23
Tugas Dewan Pertimbangan

  1. Memberikan pertimbangan yang diperlukan, baik yang diminta maupun tidak diminta dan wajib diperhatikan oleh Pengurus Pusat.
  2. Dalam keadaan darurat yang  membahayakan kelangsungan hidup, guna menyelamatkan PSMTI,bersama-sama dengan Dewan Pembina Pusat dapat mengambil alih dan atau membekukan Kepengurusan Pusat untuk sementara dan selanjutnya menyelenggarakan Munaslub.

BAB XVI: DEWAN PEMBINA

Pasal 24
Tugas Dewan Pembina

Dewan Pembina bertugas memberi pembinaan dan pengarahan pada Pengurus Pusat atau
Provinsi agar semua aktifitas PSMTI berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi dengan berpedoman pada AD  PSMTI, ART  PSMTI,  peraturan PSMTI serta program kerja
PSMTI.

BAB XVII: DEWAN KETUA KEHORMATAN

Pasal 25
Tugas Dewan Ketua Kehormatan

Dewan Ketua Kehormatan bertugas memberikan pengayoman dan dukungan moril
maupun materiil untuk kemajuan PSMTI.

BAB XVIII: DEWAN PENASIHAT

Pasal 26
Tugas Dewan Penasihat

Dewan Penasihat bertugas memberikan nasihat kepada Pengurus PSMTI sesuai tingkatan
kepengurusan agar berjalan sesuai dengan AD  PSMTI dan  ART  PSMTI,  peraturan
PSMTI serta program kerja PSMTI.

BAB XIX: DEWAN PAKAR

Pasal 27
Tugas Dewan Pakar

  1. Mengkaji secara ilmiah dan profesional, perkembangan berbagai aspek kehidupan masyarakat dan menyerahkan hasil kajian tersebut kepada pengurus PSMTI, sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
  2. Merancang platform PSMTI

BAB XX: BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Pasal 28
Tugas Badan Pemeriksa Keuangan

  1. Memeriksa dan mengaudit pertanggung jawaban keuangan PSMTI, sesuai dengan tingkatan kepengurusannya.
  2. Melaporkan hasil pemeriksaan keuangan pada Forum Musyawarah sesuai tingkatannya.

BAB XXI: PESERTA MUSYAWARAH

Pasal 29
Musyawarah Nasional

  1. Peserta Musyawarah Nasional PSMTI:
    • Dewan Pertimbangan Pusat
    • Dewan Pembina Pusat.
    • Dewan Ketua Kehormatan Pusat.
    • Dewan Penasihat Pusat.
    • Dewan Pakar Pusat.
    • Badan Pemeriksa Keuangan Pusat.
    • Pengurus Pusat.
    • Pengurus Provinsi
    • Pengurus Kabupaten/Kota
    • Pengurus Kecamatan/Distri
    • Anak Organisasi PSMTI
    • Afiliasi
    • Perwakilan
    • Organisasi Tionghoa
    • Undangan-undangan
  2. Peserta Musyawarah Provinsi
    • Ketua Umum atau yang mewakili
    • Dewan Pembina Provinsi.
    • Dewan Ketua Kehormatan Provinsi.
    • Dewan Penasihat Provinsi.
    • Dewan Pakar Provinsi.
    • Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi.
    • Pengurus Provinsi.
    • Pengurus Kabupaten/Kota
    • Pengurus Kecamatan/Distrik
    • Anak Organisasi PSMTI
    • Afiliasi
    • Organisasi Tionghoa
    • Undangan-undangan
  3. Peserta Musyawarah Kabupaten/ Kota
    • Ketua Provinsi atau yang mewakili
    • Dewan Pembina Kabupaten/ Kota
    • Dewan Ketua Kehormatan Kabupaten/ Kota
    • Dewan Penasihat Kabupaten/ Kota
    • Dewan Pakar Kabupaten/ Kota
    • Badan Pemeriksa Keuangan Kabupaten/ Kota
    • Pengurus Kabupaten/ Kota
    • Anak Organisasi PSMTI
    • Afiliasi
    • Perwakilan
    • Organisasi Tionghoa
    • Undangan-undangan
  4. Peserta Musyawarah Kecamatan/Distrik
    • Ketua Kabupaten/Kota atau yang mewakili
    • Dewan Pembina Kecamatan/Distrik
    • Dewan Ketua Kehormatan Kecamatan/Distrik
    • Dewan Penasihat Kecamatan/Distrik
    • Dewan Pakar Kecamatan/Distrik
    • Badan Pemeriksa Keuangan Kecamatan/Distrik
    • Pengurus Kecamatan/Distrik
    • Anak Organisasi PSMTI
    • Organisasi Tionghoa
    • Undangan-undangan

BAB XXII: RAPAT

Pasal 30
Peserta Rapat

  1. Peserta Rapimnas adalah:
    • Pengurus Pusat
    • Ketua Pengurus Provinsi atau yang diberi mandat
    • Undangan lain
  2. Peserta Rapimprov
    • Pengurus Provinsi
    • Ketua Pengurus Kabupaten/Kota atau yang diberi mandat
    • Undangan lain
  3. Peserta Rapimkab/Rapimkot
    • Pengurus Kabupaten/Kota
    • Ketua Pengurus Kecamatan/Distrik atau yang diberi mandat
    • Undangan lain
  4. Peserta Rapimcam/Rapim Distrik
    • Pengurus Kecamatan/Distrik
    • Undangan lain
  5. Peserta Rakernas
    • Pengurus Pusat
    • Ketua Pengurus Provinsi atau yang diberi mandat
    • Ketua Pengurus Kabupaten/Kota atau yang diberi mandat
    • Ketua Pengurus Kecamatan/Distrik atau yang diberi mandat
    • Undangan lain
  6. Peserta Rakerprov
    • Pengurus Provinsi
    • Ketua Pengurus Kabupaten/Kota atau yang diberi mandat
    • Ketua Pengurus Kecamatan/Distrik atau yang diberi mandat
    • Undangan lain
  7. Peserta Rakerkab/Rakerkot
    • Pengurus Kabupaten/Kota
    • Ketua Pengurus Kecamatan/Distrik atau yang diberi mandat
    • Undangan lain
  8. Peserta Rakercam/Raker Distrik
    • Pengurus Kecamatan/Distrik
    • Undangan lain

BAB XXIII: KEUANGAN

Pasal 31
Keuangan

  1. Pemasukan dan pengeluaran keuangan, hanya untuk kepentingan kegiatan PSMTI dan harus dibukukan dengan standar akuntansi keuangan, serta dipertanggung-jawabkan pada akhir masa kepengurusan dalam Musyawarah di setiap tingkatan.
  2. Pengurus wajib menyerahkan pertanggung-jawaban pembukuan keuangan kepada Badan Pemeriksa Keuangan sesuai tingkatannya untuk diperiksa dan diaudit.
  3. Badan Pemeriksa Keuangan wajib menyampaikan hasil pemeriksaan pada Musyawarah yang bersangkutan.

BAB XXIV: PENUTUP

Pasal 32

  1. ART PSMTI ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari AD PSMTI yang disahkan dalam MUNAS V PSMTI tahun 2013-2017.
  2. Hal-hal yang belum diatur dalam ART PSMTI ini, akan ditetapkan oleh pengurus dengan Peraturan PSMTI.
  3. ART PSMTI ini berlaku sejak ditetapkan oleh Musyawarah Nasional dan ART PSMTI sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, ASAP.

Sending

Komplek Puri Delta Mas blok H 8-9, Jl. Bandengan Selatan No. 43. Jakarta Utara 14450

©2017 PSMTI exclusively made by Cerberus Works

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Anal