PSMTI Sulawesi Selatan Jaga Tradisi Bagikan Angpao Imlek 2569

Laporan Wartawan Tribun Timur, Alfian

Penyunting oleh: Eric Fernando

Sepuluh hari menjelang puncak perayaan Imlek Tahun Saka 2569, Jumat (16/2/2018), pengurus Panguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi  Selatan, kembali mengelar aksi sosial kemanusian.

Seperti tradisi satu dekade terakhir, pengurus paguyuban yang menghimpun klan dan marga Tionghoa ini, membagikan angpao dan bingkisan sembilan bahan pokok (sembako) kepada 500-an warga pra-sejahtera Tionghoa di Makassar.

Ketua Harian PSMTI Sulsel Emmy Djita, kepada Tribun, Rabu (7/2/2018), mengungkapkan pembagian angpao dan bingkisan ini sebagai realisasi program tahunan PSMTI menjelang perayaan tahun baru dan tradisi tua dari Tiongkok.

“Ternyata ada banyak orang Tionghoa yang hidupnya sangat memprihatinkan, prasejahtera dengan kondisi sosial dasar, ekonomi, dan kesehatan kategori pra-sejahtera,” ujar Emmy.

Pembagian bingkisan angpao ini dipimpin langsung Ketua Harian PSMTI Emmy Jita, bersama sejumlah pengurus bidang sosial.

Data acak sementara yang dikumpulkan pengurus ada sekitar kurang dari 1000-an warga Tionghoa yang masuk kategori prasejahtera.

Mereka kebanyakan orang tua yang secara kondisi fisik lemah, tak lagi mengetahui jejak anak dan sanak famili, serta kesulitan memenuhi kebutuhan sosial dasar, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

PSMTI bekerjasama dengan marga-marga, serta klenteng dan yayasan sosial terus mendata kondisi mereka.
Pengurus dibagi dalam enam tim, yang membagikan bingkisan sejak Senin (5/2/2018) hingga pekan depan.

Mereka kebanyakan menyebar di kawasan Pecinan, utara kota, seperti Jl Tinumbu, Jl Satanga, Jl Sangir, Jl Lamputan, dan sejumlah pemukiman prasejahtera di daerah lain.

Mereka yang hadir antara lain; Charles Tenriady, Hengky Sumitomo, Yolanda Tanto, Lintje Thomas, Fonny Wijadi, Hendrik Wirana dan Hendrik Hadiono.

Emmy menceritakan kebanyakan keluarga dan individu yang mendapat bingkisan Imlek ini adalah rata-rata berusia 60 hingga 80 tahun.

Ada satu keluarga anaknya cacat mental, ibunya terbaring sakit, dan kehidupannya tak jauh beda dengan warga prasejahtera kebanyakan.

Ada juga seorang ibu usia 80 tahun, lumpuh dan diurus oleh putrinya dan putrinya yang pernah mengalami kecelakaan, kakinya di gips, karena cacat.

Ada juga orangtua penderita katarak, tak bisa lagi melihat dan hidup dari kebaikan keluarga dan tetangga,.
Ada juga orang tua yang dalam 10 tahun terakhir berpindah rumah. Sudah dua kali sewa rumah.

“Bulan Maret ini rumah kontrakan yang sekarang ditinggali akan jatuh tempo,” ujar Emmy menggambarkan kondisi warga Tionghoa Prasejahtera.

Christiany Juditha, peneliti dari Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Makassar di Jl Racing Center, Makassar.(*)

0 Comments

Leave a reply

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, ASAP.

Sending

Komplek Puri Delta Mas blok H 8-9, Jl. Bandengan Selatan No. 43. Jakarta Utara 14450

©2018 PSMTI exclusively made by Cerberus Works

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?